JULIA PUTRI, 3032016007 (2021) IMRĀ’AH DALAM ALQURAN (STUDI ANALISIS KISAH ISTRI NABI NUH DAN NABI LUTH BERDASARKAN SURAT AT-TAHRIM AYAT 10). Skripsi thesis, IAIN Langsa.
|
Text
SKRIPSI JULIA PUTRI NIM 3032016007.pdf Download (1MB) |
Abstract
Istilah istri dalam Alquran dilambangkan dengan beberapa kata. Salah satu kata yang mengarah pada makna istri dalam Alquran adalah kata imrā’ah. Kata imrā’ah dalam Alquran memiliki dua pengertian yaitu perempuan dan istri, namun pada umumnya bermakna istri. Kata imrā’ah dalam Alquran ditujukan kepada istri yang bermasalah dalam rumah tangganya, baik dari segi fisik maupun dari segi mental. Imrā’ah yang dimaksud dalam penelitian ini adalah untuk menyebutkan istri Nabi Nuh dan Nabi Luth berdasarkan surat At Tahrim ayat 10. Sebagai kalam Allah yang sangat mulia, Alquran sangat teliti dalam menggunakan setiap lafazhnya, sehingga ketika ada istri yang bermasalah dalam rumah tangganya Alquran menyebut istri tersebut dengan lafazh yang berbeda. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui latarbelakang dan penerapan makna imrā’ah dalam Alquran, dan untuk mengetahui secara lebih mendalam kisah istri Nabi Nuh dan Nabi Luth dalam Alquran berdasarkan surat At-Tahrim Ayat 10. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dan menggunakan metode tematik dalam pengolahan datanya. Dengan menggunakan metode tersebut maka dapat membentuk suatu gagasan yang komprehensif mengenai pandangan Alquran terhadap tema yang dikaji. Penulis juga mengkaji dua kisah ini dari aspek bahasa. Melalui analisis bahasa, penulis mengungkap relasi antara pemilihan diksi dan konteks yang melatarbelakanginya. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya menampilkan deskripsi kisah saja, tetapi juga analisis, tanggapan, dan hikmah dari kisah tersebut. Dengan menggunakan metode tersebut, maka hasil dari penelitian ini diantaranya. Pertama, penggunaan lafazh imrā’ah dengan konotasi makna istri, apabila terdapat masalah dalam rumah tangga tersebut, masalah itu bisa beragam misal tidak seiman, tidak harmonis, tidak memiliki keturunan dan permasalahan lainnya. Kedua,kedudukan istri Nabi Nuh dan istri Nabi Luth bersuamikan dua orang hamba yang shaleh, tetapi keshalehan suaminya tidak meluluhkan hati mereka sedikitpun untuk beriman kepada Allah, bahkan keduanya berkhianat kepada suaminya dan bekerja sama dengan kaumnya. Penghianatan yang mereka lakukan adalah penghianatan dalam hal agama, dan belum ditemukan satu penafsiran pun yang mengatakan bahwa istri Nabi melakukan perbuatan zina. Akan tetapi bentuk kedurhakaan tersebut adalah pembangkangan seorang istri terhadap apa yang diperintahkan oleh suaminya untuk beriman kepada Allah, kisah tersebut terlukis dalam surat at-Tahrim ayat 10.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Additional Information: | Pembimbing I : Dr. H. Marhaban, MA Pembimbing II: Mawardi, M.SI |
| Uncontrolled Keywords: | Imrā’ah , Istri Nabi Nuh, Istri Nabi Luth, At-Tahrim ayat 10 |
| Subjects: | Hukum Islam > Alquran dan Hadis |
| Divisions: | Fak. Ushuluddin, Adab & Dakwah > Ilmu Al-Qur'an & Tafsir |
| Depositing User: | Unnamed user with email pustaka@iainlangsa.ac.id |
| Date Deposited: | 06 Aug 2026 02:51 |
| Last Modified: | 06 Aug 2026 02:51 |
| URI: | http://digilib.iainlangsa.ac.id/id/eprint/4993 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
