MAULIZA, 3032022031 (2026) KUFUR NIKMAT DALAM AL-QUR’AN: ANALISIS METODE PENAFSIRAN BINTU SYATHI’. Skripsi thesis, PERPUSTAKAAN IAIN LANGSA.
|
Text
Penyerahan Skripsi Mauliza 13 (1).pdf Download (841kB) |
Abstract
Kufur nikmat merupakan salah satu konsep penting dalam al-Qur'an yang berkaitan dengan sikap manusia terhadap berbagai nikmat yang dianugerahkan Allah swt. Meskipun istilah kufur sering dipahami sebagai bentuk ketidakimanan, dalam beberapa ayat al-Qur'an kata kufur juga digunakan untuk menunjukkan sikap mengingkari, tidak mensyukuri, atau menyalahgunakan nikmat yang diberikan Allah. Pemahaman terhadap konsep kufur nikmat menjadi penting karena berkaitan erat dengan konsep syukur yang menjadi salah satu ajaran fundamental dalam Islam. Penelitian ini berupaya mengkaji konsep kufur nikmat dalam al-Qur'an melalui perspektif tafsir Bintu Syathi' dengan pendekatan linguistik dan tematik. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana konsep kufur nikmat dalam al-Qur'an? (2) Bagaimana penafsiran Bintu Syathi' terhadap ayat ayat kufur nikmat dalam al-Qur'an? Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan konsep kufur nikmat dalam al-Qur'an serta menganalisis penafsiran ayat-ayat kufur nikmat berdasarkan metode tafsir Bintu Syathi'. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) yang bersifat kualitatif dengan metode deskriptif-analitis. Data penelitian diperoleh dari ayat-ayat al-Qur'an yang berkaitan dengan kufur nikmat, khususnya QS. Luqman [31]: 12, QS. Ibrahim [14]: 7, dan QS. Al-Baqarah [2]: 152. Analisis dilakukan menggunakan pendekatan tafsir tematik dan metode tafsir bayani Bintu Syathi' yang menekankan kajian kebahasaan, konteks penggunaan lafaz, serta keterkaitan antar ayat dalam al-Qur'an. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep kufur nikmat dalam al-Qur'an merupakan sikap mengingkari, tidak mensyukuri, atau menyalahgunakan nikmat yang telah diberikan Allah swt. Secara linguistik, kata kufur berasal dari akar kata kafara yang berarti menutupi atau mengingkari, sedangkan syukur berarti menampakkan dan mengakui nikmat. Analisis terhadap QS. Luqman [31]: 12, QS. Ibrahim [14]: 7, dan QS. Al-Baqarah [2]: 152 menunjukkan bahwa kufur nikmat selalu diposisikan sebagai lawan dari syukur. Menurut perspektif Bintu Syathi', makna kufur nikmat harus dipahami melalui analisis kebahasaan dan relasi antarayat dalam al-Qur'an. Kufur nikmat tidak hanya berupa pengingkaran secara lisan, tetapi juga tercermin dalam sikap hati dan perilaku yang tidak menggunakan nikmat sesuai dengan kehendak Allah. Penelitian ini juga menemukan bahwa kufur nikmat memiliki implikasi terhadap kehidupan dunia dan akhirat, sedangkan syukur menjadi sebab bertambahnya nikmat, ketenangan jiwa, dan keberkahan hidup.
| Item Type: | Thesis (Skripsi) |
|---|---|
| Additional Information: | Pembimbing I : Wali Ramadhani, M.A Pembimbing II: Saifuddin, S.Ag., M.A |
| Uncontrolled Keywords: | Kufur Nikmat, Al-Qur’an, Bintu Saythi’ |
| Subjects: | Hukum Islam > Alquran dan Hadis > Tafsir Alquran |
| Divisions: | Fak. Ushuluddin, Adab & Dakwah > Ilmu Al-Qur'an & Tafsir |
| Depositing User: | Unnamed user with email pustaka@iainlangsa.ac.id |
| Date Deposited: | 05 Aug 2026 03:00 |
| Last Modified: | 05 Aug 2026 03:00 |
| URI: | http://digilib.iainlangsa.ac.id/id/eprint/4955 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
