TRADISI PEMBACAAN WIRID YASIN 41 ( KAJIAN LIVING QUR'AN DI BALAI PENGAJIAN ISTIQAMATUDDIN DESA ALUE PINEUNG TIMUE KOTA LANGSA)

DAVA AURIEL RADHITYA, 3032020001 (2024) TRADISI PEMBACAAN WIRID YASIN 41 ( KAJIAN LIVING QUR'AN DI BALAI PENGAJIAN ISTIQAMATUDDIN DESA ALUE PINEUNG TIMUE KOTA LANGSA). Skripsi thesis, IAIN Langsa.

[img] Text
Skripsi dava full_compressed.pdf

Download (1MB)

Abstract

Wirid Yasin merupakan suatu tradisi yang pembacaan surah Yasin secara menyeluruh yang bertujuan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt. Seiring berjalannya waktu, jenis wirid Yasin semakin lama semakin beragam tatacara praktiknya baik dari segi pengulangan ayat-ayat tertentu dan dalam jumlah tertentu, salah satunya ialah wirid Yasin 41. Hal ini yang menjadikan ketertarikan penulis untuk meneliti wirid Yasin 41. Wirid Yasin 41 ini sudah aktif di Desa Alue Pineung Timur Kota Langsa selama 2 tahun lamanya dan aktif di sebuah Balai Pengajian yang bernama Balai Istiqamatuddin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana praktik pembacaan wirid Yasin 41 di Balai Istiqamatuddin dan bagaimana pemaknaan yang terkandung dalam tradisi pembacaan wirid Yasin 41 yang diterapkan kepada jamaah. Kajian ini merupakan kajian Living Qur’an. Kajian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif melihat, mengamati, dan memahami berbagai gejala, peristiwa, fenomena dan fakta sosial yang terjadi di suatu tempat tertentu. Kajian ini juga menggunakan pisau analisis teori sosiologi pengetahuan Karl Mannheim, dua dimensi pembentuk tindakan manusia yaitu, perilaku (behaviour) dan makna (meaning) yang terbagi dalam tiga bagian yaitu makna obyektif, ekspresive dan documenter. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa praktik pembacaan wirid Yasin 41 tersebut diawali dengan penyerahan ijazah, setelah itu dimulai dengan membaca istighfar dan shalawat lalu dilanjutkan dengan membaca surah al-Fatihah guna mengirimkan pahala untuk orang yang kita maksud, lalu membaca surah Yasin dengan pengulangan ayat yang telah ditetapkan, membaca ayat kursi, membaca beberapa surah dari juz 30 seperti surah al-Qadr, surah al-Insyirah, surah al-Kafirun, setelah itu membaca qasidah Munfarijah dan qasidah Haiah. Pemaknaan terhadap pembacaan wirid Yasin 41 berdasarkan teori Karl Mannheim terbagi menjadi tiga, yaitu: Pertama, makna obyektif dari pembacaan wirid Yasin 41 ialah bentuk sosial kemanusiaan berupa saling mengingatkan dalam hal yang baik dijalan Allah. Kedua, makna ekspresif dari pembacaan wirid Yasin 41 ialah sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas diri dalam mengharapkan ridho Allah di dunia dan di akhirat. Ketiga, Makna documenter dari pembacaan wirid Yasin 41 ialah tradisi tersebut berdampak pada pribadi jamaah seperti ada rasa yang berbeda setelah jamaah membacanya. Bukan hanya ketenangan hati dan ketentraman batin saja, melainkan ada rasa lain yang tersirat didalam batin tiap jamaah.

Item Type: Thesis (Skripsi)
Additional Information: Pembimbing I : Dr. Muhammad Amiin, S. TH,M.A Pembimbing II: Dr, Mawardi, M.SI
Uncontrolled Keywords: Wirid Yasin 41, Balai Istiqamatuddin, Living Qur’an
Subjects: Hukum Islam > Budaya Islam
Divisions: Fak. Ushuluddin, Adab & Dakwah > Ilmu Al-Qur'an & Tafsir
Depositing User: Unnamed user with email pustaka@iainlangsa.ac.id
Date Deposited: 02 Sep 2026 04:06
Last Modified: 02 Sep 2026 04:06
URI: http://digilib.iainlangsa.ac.id/id/eprint/5178

Actions (login required)

View Item View Item